Tuesday, May 1, 2018

Negara Paling "Islami"?

Hossein Askari (guru besar politik dan bisnis internasional di Universitas George Washington), melakukan studi untuk mengetahui di negara manakah di dunia ini yang paling banyak menerapkan nilai-nilai Islam. Salah satu indikator yang digunakan adalah kebersihan, ketertiban, dan kerapian. Hasilnya sangat mengejutkan, dari 208 negara yang diteliti, ternyata tak satu pun negara Islam menduduki peringkat 25 besar.

Negara paling "Islami" adalah Irlandia, Denmark, Luksemburg, dan Selandia Baru. Urutan selanjutnya adalah Swedia, Singapura, Finlandia, Norwegia, dan Belgia.

Lalu, bagaimana dengan negara-negara Islam? Malaysia hanya menempati peringkat ke-33. Negara Islam lain di posisi 50 besar adalah Kuwait (peringkat ke-48). Arab Saudi di posisi ke-91 dan Qatar ke-111. Di manakah urutan Indonesia?

Berdasarkan hasil penelitiannya, Askari mengatakan, kebanyakan negara Islam menggunakan agama sebagai instrumen untuk mengendalikan negara. “Kami menggarisbawahi bahwa banyak negara yang mengakui diri Islami tetapi justru kerap berbuat tidak adil, korup, dan terbelakang. Faktanya mereka sama sekali tidak Islami,” ujar Askari. “Jika sebuah negara memiliki ciri-ciri tak ada pemilihan, korup, opresif, memiliki pemimpin yang tak adil, tak ada kebebasan, kesenjangan sosial yang besar, tak mengedepankan dialog dan rekonsiliasi, negara itu tidak menunjukkan ciri-ciri Islami,” lanjut Askari.

Kita tak perlu marah atau kesal setelah membaca hasil studi Askari. Terlepas barangkali metode riset yang masih bisa diperdebatkan, ayo kita introspeksi diri dalam konteks tugas dakwah kita sebagai muslim. Terlebih kita yang menggeluti dalam dunia pendidikan.

Mulai dengan mengkaji surat Ali ‘Imran ayat 104, “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada ‘khair’, menyuruh berbuat ‘makruf’ dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Dengan mencermati ayat di atas muncul sebuah pertanyaan, apa perbedaan makna antara ‘khair’ dan ‘makruf’? Dalam Al-Qur’an terjemah kedua kata tersebut diterjemahkan dengan ‘kebajikan’. Secara etimologi keduanya memang bisa diterjemahkan dengan kata kebajikan. Tetapi, dalam kaidah Bahasa Arab, “Kullu ma zadal mabna, zadal ma’na” (Setiap bertambah susunan huruf, maka bisa membedakan makna). Apalagi kedua kata ini (khair dan makruf), bukan hanya berbeda satu huruf, namun jelas berbeda susunan semua hurufnya. Jelas sekali memiliki makna yang berbeda.

‘Khair’ merupakan kebajikan yang baru bisa dipahami oleh manusia jika menggunakan kaca mata Islam. Misalnya, shalat dan puasa. Orang diluar Islam bertanya-tanya dan tidak paham, ngapain muslimin capek-capek shalat lima kali sehari semalam dan menahan lapar dan haus puasa selama sebulan? Mereka tidak akan mengerti dan paham karena tidak menggunakan sudut pandang Islam.

Sedangkan, ‘makruf’ merupakan kebajikan yang bisa dipahami oleh semua orang tanpa harus menggunakan sudut pandang Islam. Misalnya, disiplin, jujur, tertib, bersih, amanah, adil, santun, pemurah. Orang-orang diluar Islam, apapun agamanya, akan mengerti dan paham bahwa sifat-sifat di atas adalah kebajikan. Inilah yang kemudian populer disebut sebagai nilai-nilai Islam yang universal. Inipula yang kerap dijadikan indikator penelitian untuk meneliti negara atau kota paling Islami di dunia.

Itulah mengapa pada surat Ali ‘Imran ayat 104 di atas menggunakan kata “yad’una” (mengajak) untuk khair dan “ya’muruna” (memerintahkan) untuk makruf. Karena, makruf itu kebajikan universal, maka pesan Al-Qur’an perintahkan manusia melakukan makruf. Siapapun orangnya dan agamanya harus mengakui dan memahami makruf itu kebajikan. Sedangkan, kepada “khair” pesan Al-Qur’an ajaklah manusia menuju “khair”. Karena, khair adalah kebajikan yang baru bisa dipahami dengan sudut pandang Islam. Maka, ajaklah dan serulah manusia, bukan perintahkan.

Kita dapat mengambil pelajaran dari surat Ali ‘Imran ayat 104, Al-Qur’an ingin berpesan kepada kita (muslimin), “Jadilah kalian yang terdepan dan terbaik dalam hal-hal makruf agar kalian bisa mengajak manusia (diluar Islam) menuju kepada khair (tertarik kepada Islam dan akhirnya memeluk Islam).”

Jika kita berantakan dalam hal-hal makruf (disiplin, jujur, amanah, tertib, bersih, santun, adil, pemurah, dll), bagaimana bisa kita mengajak orang-orang diluar Islam menuju khair? Bagaimana bisa mereka akan tertarik kepada Islam jika melihat contoh perilaku tidak Islami dari umat muslim sendiri.

Surat Ali ‘Imran ayat 104 ini merupakan ayat perintah dakwah. Demikianlah strategi dan metode dakwah yang diajarkan Al-Qur’an dan telah diteladankan dengan sempurna oleh Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dan generasi sahabat. Saksamailah Sirah Nabawiyah, berapa banyak orang-orang kafir Quraisy tertarik memeluk Islam karena keindahan dan keluhuran akhlak dan pribadi Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Sudahkah kita menjadi teladan dalam hal-hal makruf agar tersyiar indah ajaran Islam ini kepada orang-orang diluar Islam? Sehingga, dengan keteladanan dalam hal-hal makruf, ajakan kita kepada mereka menuju khair menjadi powerful. Dan, pada akhirnya, mereka tertarik kepada Islam dan semoga memeluk Islam. Wallahu A’lam.

Rasulullah saw. bersabda: “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik perilakunya”. (HR. Al-Bukhari)


No comments:

Post a Comment

New Post

Menerapkan Perilaku Mulia Setelah Memahami Peradaban Islam di Dunia

Pemahaman tentang peradaban Islam di dunia, khususnya di bidang ilmu pengetahuan mutlak dilakukan, karena dunia Islam pernah menjadi pusa...

Pages - Menu