Tuesday, May 1, 2018

Perkembangan Islam di Benua Afrika

Perkembangan Islam di Benua Afrika
Secara umum, Islam memasuki Afrika sejak masa-masa awal kelahirannya. Kemudian Islam pun berkembang dengan mudah di kawasan tersebut. Untuk melihat perkembangan Islam di Benua Afrika. Berikut penjelasan beberapa negara di wilayah tersebut, yaitu Habasyah, Mesir, dan Pantai Utara Afrika.

a. Habasyah (Ethiopia)
Perkembangan Islam di Benua Afrika

Ketika kaum muslimin di Makkah mendapat penganiayaan dari kafir Quraisy yang kian hari kian meningkat, maka pada suatu hari Nabi Muhammad saw. memerintahkan kaum muslimin, baik laki-laki maupun perempuan, untuk berhijrah ke Habasyah (Abysinia), karena di Habasyah (Ethiopia) tidak ada perbuatan sewenang-wenang dan penganiayaan dari pihak pemerintahannya.
Perkembangan Islam di Benua Afrika

Beliau lebih suka dirinya dianiaya ataupun disiksa oleh kaum musyrikin Quraisy, daripada melihat kejadian-kejadian penganiayaan yang diterima oleh para pengikut beliau setiap hari. Oleh sebab itu, pada suatu hari beliau mengumpulkan para pengikutnya (kaum muslimin) lalu bersabda yang artinya, “Jikalau kamu keluar berpindah ke negeri Habasyah, adalah lebih baik, karena di sana ada seorang raja yang di wilayahnya tidak ada seorang pun yang dianiaya sehingga Allah Swt. menjadikan suatu masa kegirangan dan keluasan kepada kamu, daripada keadaan seperti sekarang ini.”

Akhirnya mulailah umat Islam berhijrah pada bulan Rajab tahun ke-5 dari kenabian. Proses hijrah ini berjalan dengan lancar dan disambut hangat oleh raja Habasyah tersebut. Sejak itu agama Islam mulai tumbuh dan berkembang di sana.

b. Mesir
Perkembangan Islam di Benua Afrika

Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, Mesir ada di bawah kekuasaan Bizantium (Romawi Timur). Masyarakat Mesir sedang dilanda perpecahan dan pertentangan antara berbagai mazhab dan aliran agama Nasrani. Itu semua antara lain disebabkan buruknya administrasi pemerintahan Bizantium, perlakuan kasar para penguasa Bizantium terhadap orang-orang Mesir, dan adanya beban ekonomi yang sangat berat, yang harus ditanggung oleh penduduk demi kejayaan imperium Romawi Timur.

Hal yang demikian inilah yang menyebabkan umat Islam yang dipimpin oleh Panglima Perang Amru bin Ash dapat memukul pasukan pertahanan Bizantium. Daerah demi daerah jatuh ke tangan pasukan muslimin, dari mulai Peluse, Heliopolis sampai Aleksandria (Iskandariah).

Sebelum jatuhnya kota Iskandariah, sudah jatuh lebih dahulu daerah-daerah pinggiran bekas wilayah Babilonia yang sekarang dikenal dengan sebutan Kairo Lama. Iskandariah jatuh ke tangan kaum muslimin pada tahun 624 M.

Setelah mendapat kemenangan yang gilang gemilang, Khalifah Umar bin Khattab mengangkat Amru bin Ash menjadi gubernur di Mesir. Setelah resmi menjadi Gubernur (Wali) di Mesir Amru bin Ash berusaha untuk memajukan Mesir di berbagai bidang, di antaranya seperti berikut ini.
1) Kota Fusthath dibangun dan dijadikan ibukota, sebagai pengganti kota Iskandariyah.
2) Mengembalikan keamanan, dengan menumpas semua kekacauan, mempersatukan bangsa Kopti dengan bangsa Arab sekalipun berlainan agama.
3) Masih memakai peraturan pemerintah yang dibuat oleh bangsa Romawi Timur, hanya di sana-sini diadakan perobahan untuk menselaraskan jalannya peraturan. Pajak yang semula berat diringankan. Oleh sebab itu, rakyatpun bergembira.
4) Jabatan Qadhi dipegang oleh Amru sendiri sampai tahun 23 H. Selanjutnya diangkat Qis bin Abil Ash sebagai Qadhi tetap yang pertama di Mesir.
5) Mendirikan masjid.
6) Membuat tempat ukuran air Sungai Nil di Halwan untuk mengetahui pasang surutnya air sungai.

c. Afrika Utara
Perkembangan Islam di Benua Afrika

Pada masa jayanya kerajaan Romawi, daerah Afrika Utara ini termasuk sebahagian dari jajahannya yang terbagi dalam 5 propinsi yaitu; Propinsi Barca, Canasalia, Tripoli, Mauritania, dan Noumedia.

Pada tahun 23 H (644 M) tentara Islam mulai memasuki daerah Afrika Utara dengan menguasai wilayah Barca, yaitu satu daerah di sebelah barat Mesir. Pada tahun 446 M tentara Islam telah jauh maju ke sebelah barat menduduki Tripoli dan beberapa buah kota lainnya. Setelah 20 tahun kemudian, hampir seluruh Afrika Utara mulai dari Mesir sampai ke Samudera Atlantik telah dikuasai oleh umat Islam, hanya tinggal beberapa negeri saja, seperti Kartago dan Ceuta.

Pada bulan Oktober 647 M (27 H), Khalifah Usman bin Affan mengizinkan Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarah memasuki wilayah Bizantium di Afrika Utara. Atas dasar inilah maka kaum muslimin membentuk pasukan di bawah pimpinan tokoh-tokoh terkemuka. Di bawah pimpinan Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sa’ad tersebut Umat Islam dapat mengalahkan tentara Romawi, Eropa dan Barbar di bawah pimpinan Gregorius. Pada tahun (665 M) (45 H) di bawah kekuasaan Khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan umat Islam dapat menguasai Gelula dan Banzart. Setelah itu mulailah agama Islam tersiar di kalangan bangsa Barbar Afrika Utara.

Dalam perkembangan selanjutnya di bawah Gubernur Musa bin Nusair dari Afrika Utara ini dapat mengembangkan ajaran Islam ke Andalus (Spanyol), peristiwa ini terjadi di tahun 710 M = 91 H pada masa Khalifah Walid bin Abdul Malik.


Perkembangan Islam di Benua Asia

Perkembangan Islam di Benua Asia
Perkembangan Islam di Benua Asia
a. India
Islam masuk ke India pada abad ke-7. kemudian agama Islam dapat berkembang dengan pesatnya di sana. Bukti berkembangnya Islam
di India adalah dengan berdirinya kerajaan-kerajaan Islam serta peninggalannya.

Kerajaan-kerajaan Islam di India di antaranya sebagai berikut:
1) Kerajaan Sabaktakin
Kerajaan ini berdiri di Ghazwah wilayah Afganistan di bawah pimpinan Sabaktakin. Beliau mengembangkan agama Islam dan ilmu pengetahuan.
2) Kerajaan Ghazi
Kerajaan Ghazi didirikan oleh Aliudin Hudain bin Husain (555 H / 1186 M), di Furoskoh, lereng gunung Afganistan. Kerajaan ini mencapai puncak kejayaan pada masa Muhammad Abdul Muzafar bin husain Al Ghazi. Beliau memberi kemerdekaan orang-orang Hindu dan berbuat baik terhadap budak-budak.
3) Kerajaan Mamalik
Raja dari budak belian ini menyebarkan agama Islam di India. Beliau mendirikan masjid raya di Delhi yang diberi nama ”Jami” dan menara yang tinggi dengan nama ”Qhutub Manar” sekarang menjadi objek wisata.
4) Kerajaan Keturunan Kilji
Kerajaan ini berdiri setelah menaklukkan Kerajaan Mamalik dan sultannya bernama Alaudin dari Afganistan. Beliau tidak lama memerintah, karena muncul kerajaan baru dari keturunan Taglak dari Turki.
5) Kerajaan Taglak
Kerajaan ini merupakan kerajaan terakhir di India sebelum datangnya bangsa Mongol. Di antara rajanya ialah Muhammad bin Taglak dan Firus Syah. Setelah kerajaan Taglak berdiri, kemudian berdirilah kerajaan Mongol Islam di India dengan raja-rajanya antara lain: Babur (1504-1530 M), Humayun (1530-1550 M), Akbar Agung (1556-1605 M), Jikangir (1605-1627 M) dan syah Jihan (1627-1657 M) yang mecapai puncak kejayaannya. Syah Jihan membangun ”Taj Mahal” di Agra sebagai penghormatan kepada permaisurinya yang cantik dan dicintainya. Pembangunan Taj Mahal menelan waktu selama 22 tahun dengan tenaga 20.000 orang.

Jadi, di India pernah terjadi kejayaan Islam. Meskipun begitu, hingga sekarang umat Islam di India tetap sebagai warga minoritas. Sejumlah khasanah Islam dikuasai umat Hindu dan dijadikan objek wisata. Umat Islam di India sekarang sekitar 100 juta jiwa yang berarti India negara ketiga terbesar yang berpenduduk muslim, setelah Indonesia dan Pakistan. Umat Islam di India nasibnya juga sama dengan di negara-negara lain yang umat Islamnya minoritas, mereka ditekan, ditindas oleh penguasa. Sebagai contoh, penghancuran masjid Babri, Ayodhia. India pada bulan Desember 1992 di Bombay terjadi pembunuhan besarbesaran terhadap sekitar 100 ribu jiwa, oleh partai ekstremis hindu yang berkuasa. Ribuan bangunan bersejarah yang dibangun raja-raja Islam kini menjadi puing yang mengenaskan, kemudian dijadikan objek wisata oleh umat Hindu.

Di India pernah lahir para pemikir handal, seperti Muhammad Iqbal, Syah Waliullah, Muhammad Ali Jinnah, Sayid Ahmad Khan, Abdul Kadir Azad dan Sayid Amer Ali.

b. Pakistan
Pakistan merupakan Negara yang memisahkan diri dari India. Pada Abad ke-13 s.d 15 agama Islam berkembang dengan pesat di India, dengan bukti adanya kerajaan-kerajaan Islam di India dan bangunan-bangunan tempat ibadah. Arti penting negara ini dalam sejarah dan perkembangan Islam terutama disebabkan dua hal berikut ini.
1) Perjuangan politiknya berlangsung pada waktu yang sama dengan perjuangan orang Hindu di India. Perjuangan itu bertujuan untuk mendirikan negara tersendiri bagi umat Islam.
2) Kedua, Pakistan berperan penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan filsafat serta berhasil melahirkan sejumlah lembaga pengkajian Islam dan intelektual muslim berkaliber internasional.

Islam di Pakistan dapat berkembang dengan pesat sehingga Pakistan merupakan negara dengan penduduk Islam terbesar kedua di dunia. Bahkan hukum Islam telah diperlakukan di Pakistan. Sayid Qutub, tokoh Ikhwanul Muslim Mesir, pernah mengatakan bahwa kini telah muncul dua kekuatan besar Islam, yakni Indonesia (Asia Tenggara) dan Pakistan (Asia Selatan). Kekuatan militer negara Pakistan ini juga diperhitungkan oleh dunia dengan adanya dugaan bahwa negara Pakistan mempunyai kemampuan persenjataan nuklir. Bahkan, Amerika menilai Pakistan, sebagai negara ”Bom Islam” (Islamic Bomb).

Ide tentang pembentukan negara tersendiri bagi Umat Islam bermula dari Sayid Ahmad Khan, kemudian dicetuskan oleh Muhammad Iqbal dan akhirnya direalisasi oleh Muhammad Ali Jinnah. Pada tahun 1947 Inggris menyerahkan kedaulatan kepada dua Dewan konstitusi, yaitu tanggal 14 Agustus 1947 untuk Pakistan dan tanggal 15 Agustus bagi India. Sejak itulah Pakistan lahir sebagai negara Islam. Muhammad Ali Jinnah diangkat sebagai gubernur jendral dengan gelar ”Quaidi-Azam” atau pemimpin besar.

Sejak negara Pakistan berdiri, umat Islam mencoba menerapkan konsep Islam yang sebenarnya dari negara Islam. Persoalan itu merupakan bahan polemik yang berkepanjangan di pemerintahan diajukan oleh Majelis Nasional dengan berpedoman kepada Rancangan Undang- Undang hasil sidang Liga Muslim pada bulan Maret 1940, yaitu harus sesuai dengan Al-Qur'an dan hadis.

Sistem pemerintahan yang dirumuskan Liga Muslim tahun 1940 itu disahkan menjadi konstitusi tahun 1956. Dalam konstitusi itu negara kemudian bernama ”Republik Islam Pakistan”. Konstitusi ini kemudian ditinjau kembali sehingga lahir konstitusi tahun 1962, dengan produk antara lain menghilangkan kata ”Islam” dan sebagai imbalannya mendirikan dua lembaga, yaitu Dewan Penasihat Ideologi Islam dan Lembaga Penelitian Islam.
Perkembangan Islam di Benua Asia

c. Afganistan
Agama Islam masuk ke Afganistan sejak masa Khalifah Umar bin Khattab. Pada masa Khalifah Usman bin Affan, Islam telah masuk ke Kabul, dan pada tahun 870 M Islam telah mengakar di seluruh negeri Afganistan. Perkembangan Islam di Afganistan selanjutnya berjalan dengan pesat, tidak ada hambatan, dengan bukti penduduk Afganistan 99 % beragama Islam.

Agama Islam sangat berpengaruh dalam segala aspek kehidupan mereka. Pada tahun 1933 muhammad Zahir Syah naik sebagai raja, kemudian Amerika Serikat dan Uni Soviet (sekarang Rusia) berusaha menanamkan pengaruhnya. Tahun 1953, Raja Zahir mengangkat Muhammad Daud (kader komunis) sebagai perdana menteri. Melihat keadaan seperti ini, umat Islam menilai bahwa pemerintah Afganistan telah jauh menyimpang dari ajaran Islam. Kemudian umat Islam mulai bergerak, yaitu dengan munculnya organisasi Perjuangan Gabungan Muslim yang bernama ”Juanan Muslim” yang kemudian pada tahun 1968 berubah nama menjadi Al-Jamiah Al-Islamiyah di bawah pimpinan Burhanudin Rabbani.

Uni Soviet (sekarang Rusia) semakin marah melihat perkembangan Islam itu. Kemudian pada tahun 1972 di bawah pengaruh Uni Soviet(sekarang Rusia), Muhammad Daud menggantikan Zahir. Pada tahun 1978 Daud tewas dibunuh dan diganti oleh Nur Taraki sebagai Presiden. Pada waktu itu, para ulama mengeluarkan fatwa untuk mengutuk dan mengafirkan Taraki serta mewajibkan jihad untuk menggulingkannya. Akibatnya timbul perjuangan mujahidin Afganistan. Kemudian pada tahun 1970 Uni Soviet (sekarang Rusia) memasuki Afganistan dengan membawa presiden bonekanya, Barak Kamal. Perbuatan itu mendapat kutukan internasional, antara lain Presiden Jimmy Carter yang memboikot Olimpiade Moskwa, dan banyak penduduk yang mengungsi ke Pakistan.

Perjuangan mujahidin semakin kuat dengan bergabungnya tujuh organisasi menjadi satu dengan nama ”Persatuan Mujahidin Islam Afganistan” dengan tujuan menegakkan kalimat Allah Swt., serta memerdekakan negara Afganistan dari kekuasaan kafir dan komunis dengan mendirikan pemerintahan Islam di Afganistan. Sebagai komando tertinggi ialah Abdu Rabbi Rasul Sayyaf.

Pada tahun 1987 peperangan memuncak, dengan bantuan senjata dari Amerika dan Inggris, dan berakhir dengan Uni Soviet (sekarang Rusia) menderita kerugian besar. Akhirnya, pada tahun 1989 Uni Soviet (sekarang Rusia) menarik seluruh tentaranya dari Afganistan. Pejuang mujahidin terus melawan pemerintah Najibullah (sejak 1987), karena para ulama mengeluarkan fatwa bahwa rezim tersebut adalah kafir dan mati dalam peperangan melawan rezim adalah mati syahid.

Ulama-ulama terkenal yang lahir di Afganistan antara lain: Ibnu Hibban Al-Basti (ulama Hadis dan Fiqih:342 H/952 M), Abu Bakar Ahmad Al- Baihaqi (penulis buku sejarah abad ke-14), dan sebagai penggerak Pan Islamisme (abad 19) di Afganistan bernama Said Jamaluddin Al-Afgani.

d. Tiongkok
Agama Islam masuk ke Wilayah Tiongkok sekitar abad ke-10, yaitu langsung dari bangsa Arab dan para saudagar yang datang dari India. Agama Islam masuk ke Tiongkok melalui perdagangan darat dan laut yang disebut jalan sutera. Adapun pertama kali terjadinya penyebaran Islam di Tiongkok yaitu pada masa Dinasti Tang.

H. Muhammad You Nusi Maliangjie (68) adalah salah satu pemimpin Islam di cina yang pernah berkunjung ke Indonesia. Beliau Imam besar Chin Cheen The She (Mesjid Agung) di RRC Tengah, salah satu delapan masjid terbesar di Cina. Masjid tersebut dibangun 1300 tahun yang lalu perpaduan khasanah arsitektur Islam dan Cina dan mampu menampung 8000 jamaah.

Menurut You Nusi, jumlah umat Islam di Tiongkok sekarang sekitar 20 juta. Agama Islam di Cina dapat berkembang dengan pesat, meskipun negara itu menganut komunis. Jumlah muslim yang menunaikan ibadah haji tiap tahun selalu meningkat, dan pada tahun 1994 mencapai 2000 orang. Ada satu kendala yang dirasakan umat Islam dalam pengembangannya, yaitu sistem komunisme yang membolehkan rakyatnya berproganda anti agama.

e. Singapura
Perkembangan Islam di Singapura boleh dikatakan tidak ada hambatan, baik dari segi politik maupun birokratis. Muslim di Singapura ± 15 % dari jumlah penduduk, yaitu ± 476.000 orang Islam. Sebagai pusat kegiatan Islam ada ± 80 masjid yang ada di sana. Pada tanggal 1 Juli 1968, dibentuklah MUIS (Majelis Ulama Islam Singapura) yang mempunyai tanggung jawab atas aktivitas keagamaan, kesehatan, pendidikan, perekonomian, kemasyarakatan dan kebudayaan Islam.

f. Thailand
Agama Islam masuk ke Thailand melalui Kerajaan Pasai (Aceh). Ketika Kerajaan Pasai ditaklukkan Thailand, raja Zainal Abidin dan orang=orang Islam banyak yang ditawan. Setelah membayar tebusan mereka dikeluarkan dari tawanan, dan para tawanan tersebut ada yang pulang dan ada juga yang menetap di Thailand, sehingga mereka menyebarkan agama Islam.

Tekanan raja Thailand terhadap Sultan Muzaffar Syah (1424-1444) dari Malaka agar tetap tunduk kepada Thailand dengan membayar upeti sebanyak 40 tahil emas per tahun ditolaknya. Kemudian Raja Pra Chan Wadi menyerang Malaka, tetapi penyerangan tersebut gagal. Pada masa pemerintahan Sultan Mansyur Syah (1444-1477) tentara Thailand di Pahang dapat dibersihkan. Wakil Raja Thailand yang bernama Dewa Sure dapat ditahan, tetapi beliau diperlakukan dengan baik. Bahkan, puterinya diambil istri oleh Mansyur Syah untuk menghilangkan permusuhan antara Thailand dengan Malaka.

g. Filipina
Berdasarkan catatan Kapten Tomas Forst tahun 1775 M, orang Arab yang mula-mula masuk Pulau Mindanau (Filipina) adalah Mubaligh yang bernama Kebungsuan pada abad ke-15 M. Sedangkan yang menyebarkan agama Islam di Pulau Sulu ialah Sayid Abdul Aziz (Sidi Abdul Aziz) dari Jeddah.

Muslim di Filipina adalah minoritas dan nasib mereka sekarang sangat memprihatinkan. Seperti nasib muslim di Thailand, Kamboja, Vietnam, Myanmar, umat Islam mendapat gangguan, tekanan bahkan pembasmian dari pihak-pihak yang memusuhinya. Hingga kini muslim Moro terus berjuang untuk memperoleh otonomi karena mereka selalu ditindas dan diperlakukan sebagai warga kelas dua oleh pemerintah Manila. Oleh karena itu, muslim Moro terus berjuang mempertahankan diri, agama dan identitas sebagai muslim.

h. Malaysia (Malaka)
Seorang ulama bernama Sidi Abdul Aziz dari Jeddah berhasil mengislamkan pejabat pemerintah Malaka kemudian terbentuklah kerajaan Islam di Malaka dengan rajanya yang pertama Sultan Permaisura. Setelah beliau wafat diganti oleh Sultan Iskandar Syah dan penyiaran Islam bertambah maju pada masa Sultan Mansyur Syah (1414-1477 M). Sultan suka menyambung tali persahabatan dengan kerajaan lain seperti Siam, Majapahit, dan Tiongkok.

Kejayaan Malaka dapat dibina lagi sedikit demi sedikit oleh Sultan Alaudin Syah I, sebagai pengganti Muhammad Syah. Kemudian memindahkan pusat pemerintahannya dari Kampar ke Johor (Semenanjung Malaka). Sultan Alaudin Syah I dikenal sebagai Sultan Johor yang pertama dan negeri Johor makin bertambah ramai dengan datangnya para pedagang dan pendatang. Sampai sekarang perkembangan agama Islam di Malaysia makin pesat, dengan bukti banyaknya masjid yang dibangun, juga terlihat dalam penyelenggaraan jamaah haji yang begitu baik. Dapat dikatakan perkembangan Islam di Malaysia, tidak ada hambatan. Bahkan, ditegaskan dalam konstitusi negaranya bahwa Islam merupakan agama resmi negara. Di Kelantan, hukum hudud (pidana Islam) telah diberlakukan sejak 1992. Kelantan adalah negara bagian yang dikuasai partai oposisi, yakni Partai Al-Islam se-Malaysia (PAS) yang berideologi Islam. Dalam pemilu 1990 PAS mengalahkan UMNO, dipimpin oleh Nik Mat Nik Abdul Azis yang menjabat sebagai Menteri Besar Kelantan.

i. Brunei Darussalam
Agama Islam di Brunei dapat berkembang dengan baik tanpa ada hambatan. Bahkan, agama Islam di Brunei merupakan agama resmi negara. Untuk pengembangan agama Islam lebih lanjut telah didatangkan ulama-ulama dari luar negeri, termasuk dari Indonesia. Masjid-masjid banyak didirikan. Umat Islam di Brunei menikmati kehidupan yang benar-benar sejahtera sesuai dengan namanya Darussalam (negeri yang damai).

Pendapatan per kapita negara ini termasuk tertinggi di dunia. Pendidikan dan perawatan kesehatan diberikan secara cuma-cuma oleh pemerintah. Negara Brunei Darussalam merupakan negara termuda di Asia Tenggara (merdeka tahun 1984 dari Inggris). Penduduk Brunei Darussalam mayoritas beragama Islam.


Negara Paling "Islami"?

Hossein Askari (guru besar politik dan bisnis internasional di Universitas George Washington), melakukan studi untuk mengetahui di negara manakah di dunia ini yang paling banyak menerapkan nilai-nilai Islam. Salah satu indikator yang digunakan adalah kebersihan, ketertiban, dan kerapian. Hasilnya sangat mengejutkan, dari 208 negara yang diteliti, ternyata tak satu pun negara Islam menduduki peringkat 25 besar.

Negara paling "Islami" adalah Irlandia, Denmark, Luksemburg, dan Selandia Baru. Urutan selanjutnya adalah Swedia, Singapura, Finlandia, Norwegia, dan Belgia.

Lalu, bagaimana dengan negara-negara Islam? Malaysia hanya menempati peringkat ke-33. Negara Islam lain di posisi 50 besar adalah Kuwait (peringkat ke-48). Arab Saudi di posisi ke-91 dan Qatar ke-111. Di manakah urutan Indonesia?

Berdasarkan hasil penelitiannya, Askari mengatakan, kebanyakan negara Islam menggunakan agama sebagai instrumen untuk mengendalikan negara. “Kami menggarisbawahi bahwa banyak negara yang mengakui diri Islami tetapi justru kerap berbuat tidak adil, korup, dan terbelakang. Faktanya mereka sama sekali tidak Islami,” ujar Askari. “Jika sebuah negara memiliki ciri-ciri tak ada pemilihan, korup, opresif, memiliki pemimpin yang tak adil, tak ada kebebasan, kesenjangan sosial yang besar, tak mengedepankan dialog dan rekonsiliasi, negara itu tidak menunjukkan ciri-ciri Islami,” lanjut Askari.

Kita tak perlu marah atau kesal setelah membaca hasil studi Askari. Terlepas barangkali metode riset yang masih bisa diperdebatkan, ayo kita introspeksi diri dalam konteks tugas dakwah kita sebagai muslim. Terlebih kita yang menggeluti dalam dunia pendidikan.

Mulai dengan mengkaji surat Ali ‘Imran ayat 104, “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada ‘khair’, menyuruh berbuat ‘makruf’ dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Dengan mencermati ayat di atas muncul sebuah pertanyaan, apa perbedaan makna antara ‘khair’ dan ‘makruf’? Dalam Al-Qur’an terjemah kedua kata tersebut diterjemahkan dengan ‘kebajikan’. Secara etimologi keduanya memang bisa diterjemahkan dengan kata kebajikan. Tetapi, dalam kaidah Bahasa Arab, “Kullu ma zadal mabna, zadal ma’na” (Setiap bertambah susunan huruf, maka bisa membedakan makna). Apalagi kedua kata ini (khair dan makruf), bukan hanya berbeda satu huruf, namun jelas berbeda susunan semua hurufnya. Jelas sekali memiliki makna yang berbeda.

‘Khair’ merupakan kebajikan yang baru bisa dipahami oleh manusia jika menggunakan kaca mata Islam. Misalnya, shalat dan puasa. Orang diluar Islam bertanya-tanya dan tidak paham, ngapain muslimin capek-capek shalat lima kali sehari semalam dan menahan lapar dan haus puasa selama sebulan? Mereka tidak akan mengerti dan paham karena tidak menggunakan sudut pandang Islam.

Sedangkan, ‘makruf’ merupakan kebajikan yang bisa dipahami oleh semua orang tanpa harus menggunakan sudut pandang Islam. Misalnya, disiplin, jujur, tertib, bersih, amanah, adil, santun, pemurah. Orang-orang diluar Islam, apapun agamanya, akan mengerti dan paham bahwa sifat-sifat di atas adalah kebajikan. Inilah yang kemudian populer disebut sebagai nilai-nilai Islam yang universal. Inipula yang kerap dijadikan indikator penelitian untuk meneliti negara atau kota paling Islami di dunia.

Itulah mengapa pada surat Ali ‘Imran ayat 104 di atas menggunakan kata “yad’una” (mengajak) untuk khair dan “ya’muruna” (memerintahkan) untuk makruf. Karena, makruf itu kebajikan universal, maka pesan Al-Qur’an perintahkan manusia melakukan makruf. Siapapun orangnya dan agamanya harus mengakui dan memahami makruf itu kebajikan. Sedangkan, kepada “khair” pesan Al-Qur’an ajaklah manusia menuju “khair”. Karena, khair adalah kebajikan yang baru bisa dipahami dengan sudut pandang Islam. Maka, ajaklah dan serulah manusia, bukan perintahkan.

Kita dapat mengambil pelajaran dari surat Ali ‘Imran ayat 104, Al-Qur’an ingin berpesan kepada kita (muslimin), “Jadilah kalian yang terdepan dan terbaik dalam hal-hal makruf agar kalian bisa mengajak manusia (diluar Islam) menuju kepada khair (tertarik kepada Islam dan akhirnya memeluk Islam).”

Jika kita berantakan dalam hal-hal makruf (disiplin, jujur, amanah, tertib, bersih, santun, adil, pemurah, dll), bagaimana bisa kita mengajak orang-orang diluar Islam menuju khair? Bagaimana bisa mereka akan tertarik kepada Islam jika melihat contoh perilaku tidak Islami dari umat muslim sendiri.

Surat Ali ‘Imran ayat 104 ini merupakan ayat perintah dakwah. Demikianlah strategi dan metode dakwah yang diajarkan Al-Qur’an dan telah diteladankan dengan sempurna oleh Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dan generasi sahabat. Saksamailah Sirah Nabawiyah, berapa banyak orang-orang kafir Quraisy tertarik memeluk Islam karena keindahan dan keluhuran akhlak dan pribadi Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Sudahkah kita menjadi teladan dalam hal-hal makruf agar tersyiar indah ajaran Islam ini kepada orang-orang diluar Islam? Sehingga, dengan keteladanan dalam hal-hal makruf, ajakan kita kepada mereka menuju khair menjadi powerful. Dan, pada akhirnya, mereka tertarik kepada Islam dan semoga memeluk Islam. Wallahu A’lam.

Rasulullah saw. bersabda: “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik perilakunya”. (HR. Al-Bukhari)


Rahasia Kejayaan Islam di Masa Lalu

Toby E. Huff, dalam bukunya “The Rise of Early Modern Science”, menyatakan bahwa dari abad ke-8 hingga akhir abad ke-14, sains Islam merupakan sains yang paling maju di dunia, jauh melampaui Barat dan China. Sayangnya, mengapa kita hanya bernostalgia dengan masa lalu?

Mulyadhi Kartanegara, dalam bukunya Tradisi Ilmah Islam, menyebutkan faktor terpenting yang membuat umat Islam berjaya di masa lalu, yaitu karena mereka memiliki “tradisi ilmiah”. Kaum muslimin saat itu benar-benar terinspirasi oleh wahyu yang pertama turun, yaitu perintah “membaca”. Mereka benar-benar menjadikan kegiatan “membaca” sebagai budaya/ tradisi dalam kehidupan sehari-hari.

Hasilnya, terlahirlah para ilmuwan handal di berbagai bidang keilmuan dengan karya-karya yang menakjubkan. Ibnu Sina (Avicenna) adalah salah satunya. Dia lebih dikenalnya sebagai bapak kedokteran dunia, al-Qanin fi at-tibb adalah karya terbesarnya. Di samping itu, ia juga pakar di bidang lain, seperti filsafat. Salah satu karyanya di bidang filsafat ialah kitab al-Inșaf. Kitab ini memuat 28.000 masalah filsafat dan ditulis hanya dalam waktu enam bulan. Jika diasumsikan setiap satu masalah membutuhkan satu halaman, maka al-Inshaf adalah buku setebal 28.000 halaman. Itu artinya Ibnu Sina menulis lebih dari 155 halaman setiap hari selama enam bulan.

Contoh lain, Ibnu Jarir al-Thabari yang merupakan salah seorang pakar tafsir, menulis 40 halaman setiap hari selama 40 tahun. Masih banyak contoh inspiratif yang lain, yang menggambarkan betapa sebagian besar usia mereka dihabiskan untuk kepentingan ilmu pengetahuan.

Jadi rahasianya adalah kaum muslimin di masa lalu dapat mencapai puncak peradaban dan membawa pencerahan bagi dunia karena mereka mencintai ilmu. Karena mereka mewarisi tradisi Islam tersebut, bangsa-bangsa Barat sekarang mengalami kemajuan yang pesat.

Sayangnya, umat Islam justru hanya bangga dengan kejayaan masa lalu, dan tidak mewarisi tradisinya, sehingga wajar saja jika umat Islam hari ini terpuruk.


Monday, April 2, 2018

Bersama UNTAN Membangun Negeri dengan Bismillah

Bacaan Bismillah
Bersama UNTAN Membangun Negeri dengan Bismillah - Bacalah dengan nama tuhanmu itulah permulaan ilmu, sebagai yang telah diwahyukan menuntut ilmu satu kewajiban. Ilmu menjadi penyuluh jalan dengan ilmu dapat kemuliaan, ilmu memajukan kehidupan ilmu yang baik dapat keberkatan. Sabda rasul junjungan, carilah ilmu pengetahuan dari dalam buaian hingga hari kematian.

Sabda Rasulullah Mengenai Menuntut Ilmu
Apakah teman-teman mengenal kata-kata diatas?, ya betul kata-kata diatas merupakan kutipan dari lirk lagu raihan yang berjudul bacalah. Untuk melakukan sesuatu pastilah seorang muslim mengucapkan nama Allah yaitu kata Bismillah sebelum memulainya bahkan juga dalam menuntut ilmu. Dalam islam bagi seorang muslim wajib baginya untuk menuntut ilmu. Tuntutlah ilmu hai teman, janganlah kita siakan untuk masa hadapan agama dan bangsa. Utlubul 'ilma walaw fissin tuntutlah ilmu walau ke negeri china. Menuntut ilmu tidak hanya untuk menghadapi masa sekarang tetapi juga untuk menghadapi masa depan. Dunia ini luas, tuntutlah ilmu walau ke negeri china begitulah lirik yang ada pada lagu raihan yang diambil dari hadis rasullah yang menyuruh kita berpergian jauh untuk mendapatkan suatu ilmu.

Hadis dari Ibnu Abd. Barr.

Artinya: “Rasulullah saaw. Bersabda; Mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim. Dan sesungguhnya segala sesuatu hingga makhluk hidup di lautan memintakan ampun bagi penuntut ilmu” (H.R. Ibnu Abdul Barr)

Jangan berilmu tanpa amalan, bagai pohon tanpa buahnya ilmu yang berkat membuatkan taqwa bermanfaat sesama insan. Ilmu yang bermanfaat ilmu tidak hanya menguntungkan diri sendiri tetapi orang lain, teman, keluarga, agama dan bangsa indonesia ini juga mendapatkan manfaatnya.

Negara-negara besar seperti Australia, Norwegia, Jerman, Singapura, Kanada, Amerika Serikat, dan masih banyak lagi, mereka mengkedapankan pendidikan untuk kesejahteraan masyarakatnya. Negara Indonesia juga termasuk negara yang memperhatikan pendidikan dalam pembangunan negerinya, hanya saja belum merata. Dengan membangun fasilitas-fasilitas pendidikan seperti sekolah, perguruan tinggi, dan lainnya, maka kedepannya negara Indonesia akan menjadi negara yang maju.

Banyak fasilitas-fasilitas pendidikan yang telah di bangun, contohnya Unviersitas Tanjungpura (UNTAN) yang berada di Pontianak, Kalimantan Barat. Pada tahun ini UNTAN mempunyai 63 program sarjana, 24 orang pascasarjana, 31.720 orang mahasiswa, sebanyak 58.061 lulusan, 2.059 staf, dan 197 Penelitian. Banyak sudah pencapaian-pencapaian yang dilakukan UNTAN untuk membangun negeri ini, Misalnya penelitian yang dilakukan oleh Dr Herry Sujaini, ST MT. yang merupakan kepala UPT Teknologi Informasi dan Komunikasi Untan/Syafarudin Ariansyah yang berjudul "Melestarikan Bahasa Daerah dengan Mesin Penerjemah".




New Post

Mengikuti Bacaan Muazin

Mengikuti Bacaan Muazin - Jika seseorang mendengar azan, hendaknya dia mengikuti bacaan tersebut berdasaran sabda Nabi Saw., "Jika ...

Pages - Menu