Showing posts with label Membuka Relung hati. Show all posts
Showing posts with label Membuka Relung hati. Show all posts

Tuesday, May 1, 2018

Rahasia Kejayaan Islam di Masa Lalu

Toby E. Huff, dalam bukunya “The Rise of Early Modern Science”, menyatakan bahwa dari abad ke-8 hingga akhir abad ke-14, sains Islam merupakan sains yang paling maju di dunia, jauh melampaui Barat dan China. Sayangnya, mengapa kita hanya bernostalgia dengan masa lalu?

Mulyadhi Kartanegara, dalam bukunya Tradisi Ilmah Islam, menyebutkan faktor terpenting yang membuat umat Islam berjaya di masa lalu, yaitu karena mereka memiliki “tradisi ilmiah”. Kaum muslimin saat itu benar-benar terinspirasi oleh wahyu yang pertama turun, yaitu perintah “membaca”. Mereka benar-benar menjadikan kegiatan “membaca” sebagai budaya/ tradisi dalam kehidupan sehari-hari.

Hasilnya, terlahirlah para ilmuwan handal di berbagai bidang keilmuan dengan karya-karya yang menakjubkan. Ibnu Sina (Avicenna) adalah salah satunya. Dia lebih dikenalnya sebagai bapak kedokteran dunia, al-Qanin fi at-tibb adalah karya terbesarnya. Di samping itu, ia juga pakar di bidang lain, seperti filsafat. Salah satu karyanya di bidang filsafat ialah kitab al-Inșaf. Kitab ini memuat 28.000 masalah filsafat dan ditulis hanya dalam waktu enam bulan. Jika diasumsikan setiap satu masalah membutuhkan satu halaman, maka al-Inshaf adalah buku setebal 28.000 halaman. Itu artinya Ibnu Sina menulis lebih dari 155 halaman setiap hari selama enam bulan.

Contoh lain, Ibnu Jarir al-Thabari yang merupakan salah seorang pakar tafsir, menulis 40 halaman setiap hari selama 40 tahun. Masih banyak contoh inspiratif yang lain, yang menggambarkan betapa sebagian besar usia mereka dihabiskan untuk kepentingan ilmu pengetahuan.

Jadi rahasianya adalah kaum muslimin di masa lalu dapat mencapai puncak peradaban dan membawa pencerahan bagi dunia karena mereka mencintai ilmu. Karena mereka mewarisi tradisi Islam tersebut, bangsa-bangsa Barat sekarang mengalami kemajuan yang pesat.

Sayangnya, umat Islam justru hanya bangga dengan kejayaan masa lalu, dan tidak mewarisi tradisinya, sehingga wajar saja jika umat Islam hari ini terpuruk.


Thursday, December 28, 2017

Indahnya Membangun Mahligai Rumah Tangga

Semua orang berharap mendapatkan sukses atau kemenangan. Manusia akan hidup dalam dua alam, yaitu dunia dan akhirat, kemenangan di akhirat dan kemenangan di dunia adalah sesuatu yang tidak bisa dipisahkan, bagaikan dan dua sisi mata uang yang tidak akan bermakna jika salah satu sisinya hilang. Bahkan Allah Shubhanallah wa taala berfirman: “Barangsiapa yang buta hatinya di dunia, niscaya di akhirat nanti akan lebih buta”(Q.S. al-Isra’/17:72)

Sukses atau kemenangan bukanlah suatu yang tiba-tiba, melainkan sebuah pencapaian yang perlu perencanaan yang matang. Perencanaan yang matang sangat dipengaruhi oleh sejauh mana ketersediaan informasi dalam memprediksi ke depan, sedangkan masa depan tanpa perencanaan dan rida Allah Shubhanallah wa taala adalah sesuatu yang mustahil untuk sukses. Untuk itu, kita perlu mengkaji bagaimana harus mengatur diri agar mencapainya.

Sukses berarti kita telah berpindah dari menjauhi Allah Shubhanallah wa taala menjadi dekat dengan Allah Shubhanallah wa taala, berpindah dari kebodohan kepada ilmu pengetahuan, berpindah dari akhlak sayyiah menjadi akhlak mahmudah, dari malas beribadah menjadi giat ibadah dan sebagainya.

Sukses dalam berkeluarga adalah rumah tangga yang diliputi sakinah (ketentraman jiwa), mawaddah (rasa cinta) dan rahmah (kasih sayang), Allah Shubhanallah wa taala berfirman:

“ Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu hidup tentram bersamanya. Dan Dia (juga) telah menjadikan di antaramu (suami, istri) rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir”. (Q.S.ar-Rum/30:21).


Saturday, July 8, 2017

Cerahkan Hati Nurani dengan Saling Menasehati

Manusia dianugerahi oleh Allah Swt. nafsu yang memiliki kecenderungan kepada kebaikan (positif ) dan kejahatan (negatif ). Firman Allah: “maka Allah mengilhamkan kepadanya (nafsu) kejahatan dan ketakwaannya”. (Q.S.asy-Syams/91:8). Dengan nafsu itulah manusia dapat meraih martabat tertinggi ketika potensi positif nafsunya sedang optimal. Ia pun dapat terjerembab ke dalam kehinaan, bahkan di bawah martabat binatang, ketika potensi negatif nafsunya sedang berperan, sehingga perilakunya dibimbing oleh nafsu negatif itu. Firman Allah: “Sungguh telah Kami ciptakan manusia dalam bentuk yang paling sempurna, kemudian Kami kembalikan dia kepada derajat yang paling rendah” [Q.S. at-Tin /95:4-5 ].

Pada saat manusia terlena karena mengkuti nafsunya itulah ia membutuhkan teguran dan peringatan dari orang lain, supaya sadar dan kembali kepada kebaikan. Itulah kondisi “alpa” atau “kesalahan” yang menjadi ciri khas manusia. Sabda Rasulullah: “Semua manusia adalah pendosa, dan sebaik-baik pendosa adalah yang mau beratubat”.

Hebatnya lagi, kesalahan dan kealpaan itu pun dapat mempercepat laju manusia mencapai derajat tertinggi, yaitu ketika mereka bertaubat dan menyesali dosa-dosanya yang telah dilakukannya. Sabda Rasulullah: ”orang yang bertaubat dari dosa, seperti orang yang bersih dari dosa”.

Pada saat manusia tidak mampu mengenali dirinya dan tidak merasa berbuat dosa, karena enggan bermuhasabah (introspeksi diri), ketka itulah nasihat dan teguran orang lain diperlukan. Oleh karena itu, di samping ada ajaran kontrol diri, evaluasi diri/introspeksi (muhasabah), Allah Swt. mengajarkan kita untuk mengontrol orang lain sebagai sumbangsih dan bentuk kepedulian terhadap sesama. Saling menasihati (tausiyyah) ini adalah salah satu bentuk dakwah, yaitu dakwah billisan (dengan kata-kata), yaitu menyampaikan nasihat kebaikan secara lisan. Sayangnya, kalau kita sedang berbuat dosa (misal: ghibah), kemudian ada teman yang menasihati atau mengingatkan supaya meninggalkannya, kebanyakan kita masih menganggap bahwa teman kita sedang “usil” atau “campur tangan”, padahal itu merupakan bentuk kepedulian dan kasih sayang kepada sesama.


Sunday, February 12, 2017

Misteri Punuk Unta

“Apakah mereka tidak memperhatikan, bagaimana unta diciptakan?” (Q.S. al-Ghasyiyah /88:17)

Tidak ada satu makhluk Allah yang tidak berguna, itu pasti. Persoalannya hanyalah pada keterbatasan kemampuan manusia dalam mengungkap manfaat dan misterinya. Salah satunya dan yang secara tegas menantang manusia adalah fakta tentang unta.

Salah satu fakta tentang unta yang masih menjadi misteri adalah kemampuannya bertahan hidup di padang pasir yang panas tanpa air dalam waktu lama, hingga sekitar satu setengah bulan. Cukup lama fakta ini menjadi misteri yang membingungkan para ilmuwan.

Pada akhirnya, para pakar fisiologi dan biologi telah menemukan jawaban dari misteri tersebut, yaitu bahwa unta ternyata memiliki kemampuan untuk memproduksi air dari lemak yang terdapat dalam punuknya melalui proses kimiawi, yang tidak dapat ditandingi oleh industri yang ada di dunia. Unta menyimpan cadangan air di punuknya. Jika unta menyimpannya di bawah kulit seperti manusia, maka suhu tubuh akan meningkat drastis dan berakibat fatal. Unta mampu menyimpan lemak di punuknya sekitar 120 kg, dengan jumlah cadangan lemak sebanyak ini unta mampu bertahan hidup tanpa air selama satu setengah bulan. Subhanallah… dan masih banyak misteri lain tentang unta, baik yang sudah terungkap maupun yang belum. Terus belajar!


Saturday, February 4, 2017

Keridaan dan Kesabaran Mencapai Surga

Keridaan dan Kesabaran Mencapai Surga
Tingkatan seorang hamba dalam menghadapi ujian dari Allah Swt. yang tidak disukainya terdiri atas dua yaitu: rida dan sabar. Rida adalah keutamaan yang dianjurkan, sedangkan sabar adalah kewajiban dan keharusan atas seorang mukmin.

Orang yang rida terkadang dapat memperhatikan hikmah dari sebuah ujian dan segi positifnya bagi dirinya, serta tidak berburuk sangka kepada Allah Swt. Adakalanya ia memperhatikan besarnya ujian dan mendapatkan alangkah sempurnanya Allah Swt. , lalu ia larut dalam kesadarannya sehingga ia lupa dengan rasa sakit dan derita yang dialaminya.

Hal ini hanya akan dicapai oleh orang-orang khusus dari kalangan ahli ma’rifat dan mahabbah. Bahkan terkadang mereka justeru menikmati cobaan itu, karena menyadari bahwa cobaan itu datang dari kekasih mereka, Allah Swt. Dalam kitab az- Zuhd, VII/77 Imam at-Tirmidzi meriwayatkan bahwa Anas r.a. menceriterakan dari Nabi saw. beliau bersabda:
“Sesungguhnya bila Allah mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka, maka siapa yang rida, dia akan mendapatkan keridaan, dan siapa yang marah, dia akan mendapatkan murka”

Ibnu Mas’ud r.a. berkata, ”Sesungguhnya Allah dengan keadilan dan ilmu-Nya menggantungkan kenyamanan dan kegembiraan pada keyakinan dan rida, dan menghubungkan kesusahan dan kesedihan, dengan keraguan dan ketidaksenangan”. Allah Swt. berfirman: ”Dan siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (Q.S.at-Tagabun/64:11)

Allah Swt. Berfirman:
Wahai anak manusia pusatkan perhatianmu untuk beribadah kepada-ku, niscaya Aku penuhi hatimu dengan kekayaan dan memenuhi tanganmu dengan rizki. Wahai anak manusia janganlah jauh-jauh dari-ku, jika kamu jauh Aku penuhi hatimu dengan kemiskinan dan memenuhi tanganmu dengan kesibukan. (H.Q.R.Hakim dari Abu Hurairah) H.R. al-Hali

Rasulullah saw Bersabda:
Barangsiapa yang cita-citanya adalah akhirat, niscaya Allah akan menghimpun kekuatannya, menjadikannya kaya hati dan dunia akan datang kepadanya dengan patuh, akan tetapi barang siapa yang cita-citanya adalah dunia, niscaya Allah akan mencerai beraikan urusannya menjadikan kemiskinan di depan matanya dan dunia tidak datang kecuali yang telah ditentukan oleh Allah bagi dirinya.(H.R.Ibnu Majah dari Zaid bin Sabit)


Monday, January 30, 2017

Semangat Beribadah dengan Menyakini Hari Akhir

Perlukah bukti tentang adanya hari akhir? Kehidupan sesudah mati pasti adanya. Bukankah makhluk yang termulia adalah makhluk yang berjiwa? Bukankah yang termulia di antara mereka adalah yang memiliki kehendak dan kebebasan memilih? Kemudian yang termulia dari kelompok ini adalah yang mampu melihat jauh ke depan, serta mempertimbangkan dampak kehendak dan pilihan-pilihannya. Demikian logika kita berkata. Dari sini pula jiwa manusia memulai pertanyaanpertanyaan baru. Sudahkah manusia melihat dan merasakan akibat perbuatanperbuatan mereka yang didasarkan oleh kehendak dan pilihan mereka itu? Sudahkah yang berbuat baik memetik buah perbuatannya? Sudahkah yang berbuat jahat menerima nista kejahatannya? Jelas tidak, atau belum, bahkan alangkah banyak manusia manusia baik yang teraniaya, dan sementara banyak pula orang-orang jahat yang menikmati gemerlap dunia.

Karena itu, demi tegaknya keadilan, harus ada satu kehidupan baru ketika  semua pihak akan memeroleh secara adil dan sempurna hasil-hasil perbuatan yang didasarkan atas pilihan masing-masing. Itu sebabnya Alquran menamai hidup di akhirat sebagai al-hayat  yang berarti “hidup yang sempurna” dan kematian dina-mainya wafat yang arti harfiahnya adalah “kesempurnaan.”
                                                                                                             
Banyak ayat Alquran yang menjelaskan hakikat di atas, antara lain Q.S Taha/20:15 “Sesungguhnya saat (hari kiamat) akan datang. Aku dengan sengaja merahasiakan (waktu)-nya. Agar setiap jiwa diberi balasan (dan ganjaran) sesuai hasil usahanya”.(Q.S Taha/20:15).

“Ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak  mengatakan: “Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang lengah  terhadap ini (keesaan Tuhan)” ( Q.S. al-A’raf/7:172)


Tuesday, December 13, 2016

Perkembangan Umat Islam

Saat ini diperkirakan terdapat antara 1.250 juta hingga 1,4 miliar umat Islam yang tersebar di seluruh dunia. Dari jumlah tersebut, sekitar 18% hidup di  negara-negara Arab, 20% di  Afrika, 20% di Asia Tenggara, 30% di Asia Selatan yakni Pakistan, India dan Bangladesh. Populasi muslim terbesar dalam satu negara dapat dijumpai di Indonesia. Populasi muslim juga dapat ditemukan dalam jumlah yang signifikan di Republik Rakyat Cina, Amerika Serikat, Eropa, Asia Tengah, dan Rusia.

Pertumbuhan umat Islam sendiri diyakini mencapai 2,9% per tahun, sementara pertumbuhan penduduk dunia hanya mencapai 2,3%. Besaran ini menjadikan Islam sebagai agama dengan pertumbuhan pemeluk yang tergolong cepat di dunia. Beberapa pendapat menghubungkan pertumbuhan ini dengan tingginya angka kelahiran di banyak negara Islam (enam dari sepuluh negara di dunia dengan angka kelahiran tertinggi di dunia adalah negara dengan mayoritas muslim. Namun belum lama ini, sebuah studi demografi telah menyatakan bahwa angka kelahiran di negara muslim menurun hingga ke tingkat negara Barat.

Perkembangan penduduk muslim yang cukup signifikan tentu saja berpengaruh terhadap perilaku umat Islam itu sendiri. Pada zaman Rasulullah saw., umat Islam masih sedikit dan oleh karena itu penanganannya juga tidak serumit saat ini. Berbagai macam kelompok muslim yang satu sama lain memiliki persepsi tentang Islam, menjadikan Islam berwarna-warni. Sepanjang masih saling menghargai dan toleransi antara intern agama, Islamisnya Allah akan berkembang pesat dengan baik. Akan tetapi, apabila setiap kelompok mengklaim bahwa kelompoknyalah yang paling benar, inilah awal dari kehancuran. Berdasarkan analisis tersebut, kita sebagai pemeluk Islam harus waspada dan terus belajar tentang Islam secara kaffah sehingga akhirnya kita menajdi orang Islam yang arif lagi bijaksana.


Monday, December 12, 2016

Manusia Makhluk Sosial

Manusia Makhluk Sosial - Allah Swt. menjadikan kita sebagai makhluk sosial, yaitu makhluk yang dalam memenuhi kebutuhan hidupnya tidak bisa dilakukan tanpa bantuan orang lain. Ini artinya kita harus melakukan interaksi atau hubungan dengan sesama. Kita perlu hidup tolong-menolong, tukar-menukar keperluan dalam segala urusan hidup masing-masing, baik dengan jalan jual-beli, sewa-menyewa, pinjam-meminjam, maupun utang piutang. Termasuk juga dalam kegiatan yang lainnya seperti bercocok tanam atau kegiatan berusaha yang lain. Dengan cara demikian, kehidupan masyarakat menjadi teratur, hubungan yang satu dengan yang lainnya menjadi lebih baik.

Namun demikian, sifat buruk sering kali menghinggapi diri kita. Contohnya tamak. Sifat tamak ini mendorong kita selalu mementingkan diri sendiri dan lupa terhadap kepentingan orang lain, bahkan masyarakat pada umumnya. Inilah yang menjadi kegelisahan kita sehingga kehidupan tidak lagi nyaman dan tenteram. Tamak, bisa mendorong kita untuk mengambil alih hak orang lain. Oleh karena itu, agama memberi peraturan yang sebaik-baiknya tentang bagaimana kita melakukan interaksi dengan manusia yang lainnya.

Hukum yang mengatur hubungan antarsesama manusia ini disebut mu’āmalah. Tujuan diadakannya aturan ini adalah agar tatanan kehidupan masyarakat berjalan dengan baik dan saling menguntungkan. Allah Swt. berfirman:
Artinya: “...dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat....” (Q.S. alMaidāh/5: 2)


Hormati dan Sayang Kepada Orang Tua

Hormati dan Sayang Kepada Orang Tua
Hormati dan Sayang Kepada Orang Tua - Kita semua pasti memiliki orang tua, baik yang masih dapat kita kecup tangannya ataupun yang sudah tiada. Telah jelas bahwa kedua orang tua sangat berjasa kepada kita. Betapa banyak pengorbanan yang mereka lakukan untuk kita. Sejak kita masih kecil hingga sekarang ini. Mereka mengorbankan jiwa, raga, harta, waktu, dan lainnya demi kita. Sudah sepatutnya kita menempatkan mereka pada kedudukan yang semestinya, yakni menghormati dan menyayanginya.

Islam telah mengatur segala hal dalam kehidupan pemeluknya, termasuk menjunjung hak-hak kedua orang tua kita dan mengajarkan untuk berbuat baik pada keduanya. Kedua orang tua kita telah mendidik dan membesarkan kita dengan susah payah. Tak sedikit keringat yang mengucur. Tak terhitung waktu yang telah terkuras baik di waktu siang maupun di keheningan malam. Tak sedikit perih yang harus ditahannya demi kebahagiaan anak-anaknya. Terkadang mereka harus menahan lapar asalkan anak-anaknya kenyang. Mereka selalu mendahulukan kepentingan anak-anaknya di atas kebutuhannya sendiri.

Betapa mulianya perilaku orang tua terhadap anak-anaknya. Sungguh tidak berlebihan kalau Rasulullah saw. menegaskan bahwa, “Riḍa Allah terletak pada riḍa orang tua, murka Allah terletak pada murka orang tua.” Namun demikian, sering kali kita saksikan melalui media, betapa sadisnya seorang anak tega menyiksa kedua orang tuanya, kejamnya seorang anak membunuh orang tuanya, dan masih banyak lagi cerita memilukan antara anak dan orang tua yang berujung orang tua menjadi korban. Kebaikan orang tua seakan sirna ditelan egoisme seorang anak, hanya sekadar keinginannya tidak dipenuhi.

Lalu, apa yang semestinya kita lakukan sebagai anak? Semoga kita bisa menjadi anak yang dapat menghormati orang tua dan berbakti kepada keduanya sehingga orang tua bangga atas kebaikan anak-anaknya.


Sunday, December 4, 2016

Rasul-Rasul Itu Kekasih Allah Swt

Rasul-Rasul Itu Kekasih Allah Swt.
Rasul-Rasul Itu Kekasih Allah Swt. - Keimanan seseorang itu tidak sah sampai ia mengimani semua nabi dan rasul Allah Swt. dan membenarkan bahwa Allah Swt. telah mengutus mereka untuk membimbing dan mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya kebenaran. Allah Swt. juga mewajibkan setiap orang Islam supaya beriman kepada semua rasul yang diutus oleh-Nya, tanpa membeda-bedakan antara rasul yang satu dan yang lainnya.
Di antara para rasul itu, ada yang diceritakan dalam al-Qur’ān dan ada pula yang tidak diceritakan. Adapun rasul-rasul yang diceritakan dalam al-Qur’ān berjumlah dua puluh lima orang. Pada setiap umat pasti ada rasul sebagai teladan hidup yang harus diikuti ajarannya dan diteladani jejaknya. 
Firman Allah Swt.:





Artinya: “Rasul (Muhammad) beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya (al-Qur’ān) dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semua beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata), “Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya.” Dan mereka berkata, “Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami Ya Tuhan kami, dan kepada-Mu tempat (kami) kembali.” (Q.S. al-Baqarah/2: 285)


Thursday, December 1, 2016

Membangun Bangsa melalui Perilaku Taat, Kompetisi dalam Kebaikan, dan Etos Kerja

Membangun Bangsa melalui Perilaku Taat, Kompetisi dalam Kebaikan, dan Etos Kerja
Apa jadinya kalau aturan yang telah dibuat tidak ditaati? Apa jadinya kalau hidup yang seharusnya dinamis ini tidak lagi termotivasi? Apa jadinya kalau mengharap cita-citanya tercapai, tetapi tidak ada kerja keras?

Manusia boleh saja berhayal,  tetapi hayalannya harus diarahkan pada keinginan atau cita-cita untuk hidup lebih baik lagi di masa yang akan datang, baik di dunia maupun di akhirat. Agar hidup yang sekali ini bermakna dan bermanfaat, kita harus menggunakannya semaksimal mungkin.

Bagaimana  cara menggunakan hidup dengan sebaik-baiknya? Kita laksanakan apa yang diperintahkan Allah  Swt. dan rasul-Nya, dan taati pula pemimpin di antara kita.  Dengan menaati perintah Allah Swt. dan rasul-Nya, serta pemimpin, niscaya hidup kita akan penuh dengan rahmat. Hal ini dijanjikan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya:“Dan taatilah Allah dan rasul, supaya kamu diberi rahmat.” (Q.S. ali-Imran/3:132)

Setiap manusia ingin hidup damai, tenteram, dan bahagia. Kehidupan yang damai akan muncul karena tidak ada pelanggaran terhadap aturan yang berlaku. Ketenteraman akan hadir karena adanya semangat berkompetisi secara sportif dan kolaboratif. Kebahagiaan akan terwujud jika apa yang diinginkan sudah terpenuhi. Bangsa ini akan menjadi besar kalau saja penduduknya, terutama masyarakat terpelajar, dapat menjunjung tinggi nilai-nilai spiritual, yakni meyakini dan menaati ajaran agama yang dianutnya, menaati pemimpinnya, semangat berkolaborasi dalam berkompetisi, serta memiliki etos kerja dalam meraih cita-cita.

Kita tidak bisa melempar tanggung jawab kepada orang lain atau pihak lain. Kita sendiri yang harus melakukannya. Dengan bersama-sama kita junjung tinggi nilai ketaatan, kompetisi dalam kebaikan, dan etos kerja, bangsa ini akan menjadi bangsa yang cukup disegani dan dibanggakan.


Wednesday, November 30, 2016

Pernyataan Tokoh Barat Tentang Islam yang Memengaruhi Perdaban Umat manusia di dunia

Pernyataan Tentang Islam yang Memengaruhi Perdaban Umat manusia di duniaSelama lima ratus tahun Islam menguasai dunia dengan kekuatannya, ilmu pengetahuan, dan peradabannya yang tinggi (Jacques C. Reister).

Cukup beralasan jika kita menyatakan bahwa peradaban Eropa tidak dibangun oleh proses regenerasi mereka sendiri. Tanpa dukungan peradaban Islam yang menjadi ‘dinamo’-nya, Barat bukanlah apa-apa (Montgomery Watt).

Peradaban berhutang besar pada Islam (Barack Obama).

Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa siapa pun sesungguhnya tak akan bisa mengelak untuk mengakui keagungan peradaban Islam pada masa lalu dan sumbangsihnya bagi dunia, termasuk dunia Barat, yang denyutnya masih terasa hingga hari ini. Meski banyak ditutup-tutupi, pengaruh peradaban Islam terhadap kemajuan Barat saat ini tetaplah nyata.

Lalu, di manakah kejayaan itu saat ini?

Islam masa lalu yang gemilang, yang telah banyak memengaruhi peradaban  umat manusia di dunia ini. Memang merupakan sebuah realitas sejarah. Dengan “mengenang” kembali masa-masa kejayaan dulu, diharapkan umat Islam secara sadar dan jujur akan mampu melihat kembali kebesaran peradaban Islam masa lalu sekaligus mengembalikan potensi untuk hadir pada masa kini dan masa yang akan datang untuk yang kedua kalinya. Karena itu, selain meretrospeksi keagungan peradaban Islam masa lalu, diharapkan ada upaya untuk memproyeksi sekaligus merekonstruksi kembali masa depan perabadan Islam di tengah-tengah hegemoni perabadan Barat sekuler saat ini. Peradaban sekuler itu sekarang sesungguhnya mulai tampak kerapuhannya dan makin kelihatan tanda-tanda kemundurannya.

Bangkitlah generasi muda Islam, singsingkan lengan baju, gapai kembali kejayaan Islam sebagaimana Islam pernah mengukir sejarah peradaban dunia ini!
Semoga!


Saturday, November 19, 2016

Sampaikan Dariku Walau Satu Ayat

Sampaikan Dariku Walau Satu Ayat
Pada dasarnya, setiap individu muslim diperintahkan untuk melaksanakan dakwah Islam sesuai dengan kadar kemampuannya. Siswa muslim juga punya kewajiban itu. Apalagi Allah Swt. memberi predikat kepada kita sebagai khairu ummah (sebaik-baiknya umat). Predikat ini akan sesuai jika kita selalu berusaha di barisan depan orang-orang yang gemar berdakwah.

Banyak dalil atau ayat dan hadis yang menyebutkan kewajiban dakwah bagi setiap individu mukmin. Dalam sebuah hadis ṡahih, Rasulullah saw. bersabda:

Artinya:
 Dari ‘Abdullah bin ‘Amr. dituturkan, bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, “Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.” (HR. Bukhari)


Artinya: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah....” (Q.S. Āli Imrān/3:110)


Saturday, September 24, 2016

Mengingat Mati Ciri Orang yang Cerdas

Hidup di dunia ini tidaklah selamanya. Akan datang masanya kita berpisah dengan dunia berikut isinya. Perpisahan itu terjadi saat kematian menjemput. Kematian adalah pintu dan setiap manusia akan memasuki pintu itu, tanpa ada seorang pun yang dapat menghindar darinya.




Artinya: Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati. (QS. Ali ‘Imran/3:185) Ayat di atas menjelaskan bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati. Kita juga akan mati sebab kita ini manusia yang memiliki nyawa. Kematian datang tidak pernah pilih-pilih. Apabila ajal datang, tidak ada satu kekuatan pun untuk mempercepat atau memperlambat. Adakalanya kematian itu menjemput saat masih bayi, kanak-kanak, remaja, dewasa, bahkan orang yang sudah tua renta. Kadang ia menjemputnya saat manusia sedang tidur, terjaga, sedang sedih, sedang bahagia, sedang sendiri, sedang bersama-sama. Kematian datang tak pernah ada yang tahu. Oleh karena itu, mengingat mati harus sering dilakukan agar manusia menyadari bahwa dirinya tidaklah akan hidup kekal. Tentu saja di sampin g kita mengingat mati, kita juga harus mempersiapkan bekal untuk menghadapi hidup setelah mati, yaitu segera bertobat dan memperbanyak amal saleh.

Salah satu cara untuk mengingat mati adalah sering-seringlah ber-ta’ziyyah (mendatangi keluarga yang terkena musibah meninggal dunia), mengurus jenazah, mulai dari memandikan, mengafani, menyalati, sampai menguburnya.

Sungguh, hanya orang-orang yang cerdaslah yang banyak mengingat mati dan menyiapkan bekal untuk mati. Seorang putra dari sahabat yang mulia, Abdullah bin ‘Umar ra. mengabarkan, “Aku sedang duduk bersama Rasulullah saw. tatkala datang seorang lelaki dari kalangan Anṡar. Ia mengucapkan salam kepada Rasulullah saw., lalu berkata, “Ya Rasulullah, mukmin manakah yang paling utama?” Beliau menjawab, “Yang paling baik akhlaknya di antara mereka.”  “Mukmin manakah yang paling cerdas?” tanya lelaki itu lagi. Beliau menjawab: “Orang yang paling banyak mengingat mati dan paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah mati. Mereka itulah orang-orang yang cerdas.” (HR. Ibnu Majah).


Thursday, August 4, 2016

Hidup Nyaman dengan Perilaku Jujur

Sikap jujur merupakan sikap positif yang harus dimiliki setiap orang. Namun pada saat sekarang, kejujuran merupakan hal yang mulai langka, hal yang jarang bisa kita jumpai. Padahal, kejujuran dapat menunjukkan jalan kebaikan yang nantinya akan mengantarkan kita ke surga.

Sifat jujur merupakan faktor terbesar tegaknya agama dan dunia. Kehidupan dunia akan hancur dan agama juga menjadi lemah di atas kebohongan, khianat serta perbuatan curang.

Karena mulianya orang yang jujur, baik di sisi Allah maupun di sisi manusia, kejujuran harus ditegakkan meskipun berat dan susah. Ungkapan tentang “orang jujur akan hancur” adalah keliru. Allah Swt. menyifatkan diri-Nya dengan kejujuran. Ini adalah bukti kesaktian jujur. Sekarang ini makin terbuka mata kita terhadap keunggulan perilaku jujur. Berapa banyak orang yang tidak jujur harus masuk penjara.

Kejujuran adalah pujian dari Allah Swt. untuk diri-Nya. Allah Swt. memiliki sifat jujur dalam semua berita-Nya, syari’ah-Nya, dalam kisah-kisah-Nya. Semuanya yang datang dari Allah Swt. semuanya benar.

Artinya: “Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Dia pasti akan mengumpulkan kamu pada hari Kiamat yang tidak diragukan terjadinya. Siapakah yang lebih benar perkataan(nya) daripada Allah?” (Q.S.an-Nisā’/4:87)

Mengapa sikap jujur itu ‘penting’? Karena kejujuran dapat membuat hati kita nyaman dan tenteram. Ketika kita berkata jujur, tidak akan ada ketakutan yang mengikuti atau bahkan kekhawatiran tentang terungkapnya sesuatu yang tidak kita katakan. Seseorang yang terbiasa berkata jujur akan merasa tidak nyaman saat dia berkata bohong walau hanya sekali.

Semoga kita mampu berbuat jujur dalam segala hal. Yakinlah, Allah Swt. Pembela kita semua. Orang yang jujur pasti akan mujur (beruntung).


Wednesday, August 3, 2016

Peninggalan Rasulullah: Alquran Pedoman Hidup Umat Manusia


Peninggalan Rasulullah: Alquran Pedoman Hidup Umat Manusia
Para rasul, sejak Nabi Adam as. sampai Nabi Muhammad saw., mereka datang untuk menyampaikan ajaran Allah Swt. kepada umat-Nya. Sebagai manusia biasa, para rasul juga pasti akan menemui ajalnya, yaitu meninggal dunia. Sepeninggal rasul-rasul itu, kehidupan umat manusia mengalami pergeseran dan ada yang mulai meninggalkan ajarannya. Saat itulah kehidupan mulai kacau karena tanpa pedoman sebagaimana telah dibawa oleh rasul. Tetapi dengan diturunkannya kitab suci, umat manusia kembali memiliki pedoman hidup.

Alquran adalah kitab suci umat Islam yang diwahyukan oleh Allah Swt. melalui Malaikat Jibril secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad saw. Alquran merupakan kitab suci terakhir yang diwahyukan dan merupakan penyempurna kitab-kitab sebelumnya. Isi kitab suci Alquran mencakup seluruh inti wahyu yang telah diturunkan kepada para nabi dan rasul sebelumnya. Alquran adalah mukjizat Nabi Muhammad saw. yang terbesar dan abadi di antara mukjizat-mukjizat lainnya. Oleh karena itu, Alquran idealnya menjadi pedoman sekaligus menjadi dasar hukum bagi kehidupan seluruh umat manusia dalam mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Rasulullah saw. menegaskan bahwa manusia tidak tersesat dalam menjalani hidupnya selama berpegang teguh pada Alquran dan hadis.

Artinya: “Kutinggalkan untukmu dua perkara (pusaka), kalian tidak akan tersesat selama berpegang teguh kepada keduanya, yaitu (Alquran) dan sunnah rasul-Nya.” (H.R. Hakim)


Sunday, July 17, 2016

Membuka Relung Hati: Meniti Hidup dengan Kemuliaan


Membuka Relung Hati: Meniti Hidup dengan Kemuliaan
Hidup mulia atau mati syahid! Sebuah ungkapan yang bermakna ajakan untuk hidup secara mulia atau mati secara syahid. Jika direnungkan, ungkapan tersebut memiliki makna yang sangat dalam. Hidup mulia adalah dambaan setiap manusia ketika hidup di dunia. Mati syahid adalah salah satu cara mendapatkan anugerah Allah Swt. kelak di akhirat, yaitu surga yang penuh dengan kenikmatan. Jadi, hidup mulia dan mati syahid adalah ungkapan yang selalu memotivasi orang yang beriman agar selalu berada di jalan Allah Swt. Agar lebih jelas memahami ungkapan tersebut, cermatilah pengalaman hidup Nabi Yusuf as. berikut!

Ketika usianya masih sangat belia, ia dicemplungkan dengan sengaja ke sebuah perigi oleh saudara-saudaranya sendiri. Ia memang selamat setelah ditemukan oleh serombongan kafilah. Namun, mereka membawa Yusuf kecil ke Mesir dan menjualnya sebagai hamba sahaya. Untuk beberapa lama ia pun hidup sebagai pembantu di rumah seorang pejabat Mesir.

Sejalan dengan usianya yang tumbuh dewasa, ujian pun mendatanginya. Istri si pejabat bersiasat merayu dan menggoda Si Tampan Yusuf. Inilah ujian yang amat berat karena justru Yusuf-lah yang kemudian menjadi tertuduh melakukan perbuatan mesum kepada majikannya. Kata Yusuf, “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku...” (Q.S. Yusuf/12:33). Seperti yang kalian ketahui, Nabi Yusuf as. pun akhirnya memang dipenjara. Inilah episode memilukan dari kehidupan manusia.

Apa yang selanjutnya terjadi terhadap Nabi Yusuf as., apakah ia terpuruk dan tenggelam dalam kesengsaraan? Tidak! Tetapi lihatlah, penjara justru menjadi batu ujian terhadap kenabian Yusuf as. Dan yang lebih membahagiakannya adalah melalui episode itu, Allah Swt. mempertemukan kembali Yusuf dengan orang tua dan saudara-saudaranya.

Catatlah tiga istilah kunci ini: pengendalian diri, prasangka baik, persaudaraan! Nabi Yusuf as. adalah sosok terpuji karena kemampuannya mengendalikan diri untuk tidak memenuhi nafsu setan istri seorang pejabat Mesir. Lagi, ia pun berhasil mengendalikan diri untuk tidak secara semena-mena menuntut balas atas saudara-saudaranya yang telah berbuat keji tehadap dirinya. Padahal, kalau mau, sebagai pejabat tinggi pasti sangat mudah baginya menuntut balas. Di saat-saat ia menanggung cobaan berat dengan dibuang ke perigi, dilelang sebagai hamba sahaya, dan dipenjara karena dituduh memerkosa, tidaklah pernah ia berprasangka buruk kepada Allah Swt. atas takdir yang menimpanya. Ia pun tidak menaruh prasangka buruk terhadap saudara-saudaranya yang keji. Justru Nabi Yusuf as. memilih untuk menghimpun mereka dalam keutuhan keluarga yang penuh persaudaraan.


Wednesday, June 29, 2016

Cahaya Ilahi di Hati Pembunuh Bayaran

Tatkala Rasulullah saw. dalam perjalanan dari Mekah untuk hijrah ke Madinah, berkumpullah orang-orang kafir Mekah di Darun Nadwah (nama tempat pertemuan) di rumah Abu Jahal. Dalam pertemuan tersebut, diputuskan untuk mengadakan sayembara, “Barangsiapa berhasil membawa Muhammad kepada kami, atau berhasil membawa kepalanya, kami (tokoh kafir Quraisy) akan memberihadiah 100 unta merah yang hitam biji matanya.”

Kemudian, berdirilah seorang di antara mereka, namanya Suraqah bin Malik. Ia berkata, “Aku yang sanggup membawa Muhammad.” Setelah itu ia langsung keluar untuk mengejar Rasulullah saw.

Ketika berhasil menemukan Rasulullah saw., tanpa membuang waktu, Suraqah langsung menghunus pedangnya hendak membunuh Rasulullah saw. Pada saat itulah, Allah Swt. menunjukkan kekuasaan-Nya. Allah Swt. memerintahkan bumi untuk patuh kepada perintah Rasulullah saw. Rasulullah saw. memerintahkan bumi untuk menahan Suraqah sehingga ia dan kudanya terperosok ke dalam bumi sampai sebatas lututnya.

Ketika melihat kudanya tidak dapat bangun, Suraqah memohon pertolongan kepada Rasulullah saw. seraya berkata, “Wahai Muhammad, amankanlah diriku! Amankanlah diriku!” Maka, Rasulullah saw. berdoa kepada Allah Swt. untuk menolong Suraqah yang hampir tertelan bumi. Akhirnya, Suraqah pun terbebas dari bahaya yang hampir merenggut nyawanya.

Setelah menyelamatkan Suraqah, Rasulullah kembali melanjutkan perjalanannya menuju Madinah. Namun, Suraqah kembali mengejarnya dengan pedang terhunus di tangannya. Ternyata ia masih tetap ingin membunuh Rasulullah saw. Seperti sebelumnya, Allah pun kembali memerintahkan bumi untuk menelan kaki kuda Suraqah. Bahkan, kini amblasnya hingga ke batas pusarnya. Karena takut ditelan bumi, Suraqah kembali memohon pertolongan Rasulullah saw. dengan amat memelas. “Wahai Muhammad, selamatkanlah diriku. Aku tidak akan menyakitimu lagi setelah ini.”

Karena mendengar permohonan Suraqah yang demikian memilukan, Rasulullah saw. pun memohon kepada Allah agar menyelamatkan Suraqah. Setelah selamat untuk yang kedua kalinya, Suraqah kemudian turun dari kudanya dan menghadap Rasulullah saw. untuk memohon ampun atas perbuatan jahatnya. Dengan penuh kelembutan, Rasulullah saw. pun memafkannya. Suraqah akhirnya menyatakan keislamannya di hadapan Rasulullah saw.


Sunday, June 26, 2016

Al-quran Sebagai Pedoman Hidup

Alkisah, terdapatlah seorang pengembara yang terbangun dari keadaan tidak sadar dan mendapati dirinya di tengah hutan. Dia tidak tahu di mana ia berada, dari mana dia berasal, siapa dia, dan untuk apa dia ada di hutan itu. Yang dia tahu adalah bahwa dia berada di sebuah hutan belantara, dikelilingi belukar lebat, pepohonan, binatang liar, dan tanpa ada seorang manusia pun untuk tempat bertanya. Di sekitar tempat dirinya terbangun, tidak dia temukan apa pun yang bisa mengingatkan dirinya akan asalusulnya, dan kenapa dia ada di tempat itu.

Seiring waktu berjalan, dia mencapai titik lelah untuk mencari siapa dirinya, dan kenapa dia berada di tempat itu. Akhirnya, yang ia lakukan dalam keseharian hanyalah bertahan hidup, tanpa tujuan dan arah yang pasti. Hingga suatu ketika datang seseorang yang mengaku sebagai utusan maharaja, yang menerangkan jati dirinya melalui sebuah surat dari sang raja, bahwa dia adalah seorang pangeran, yang berada dari suatu negeri, diutus ke tempat ini untuk mencari harta karun. Buktinya adalah secarik kertas kecil yang diselipkan di bajunya, berisi catatan tentang siapa dia dan misi apa yang dia bawa di hutan.

Cerita pengembara di atas, jika dianalogikan dengan kehidupan kita sebagai manusia ibarat ‘pengembara’ yang hidup di “hutan dunia”. Seandainya saja tidak ada utusan yang membawa petunjuk, tentulah kita akan tersesat dan kebingungan dalam mengarungi hidup ini. Sebagaimana mereka yang tidak beriman seperti kaum materialis, ateis, dan hedonis yang hidup dalam kesesatan. Maka, bersyukurlah kita yang mendapatkan petunjuk dari utusan Allah Swt. yaitu Muhammad saw. yang menyampaikan kabar gembira, memberi peringatan, dan menerangkan hakikat penciptaan kita di dunia. Bersama beliau, diturunkanlah al-Qur’an sebagai pedoman hidup.


Tuesday, June 21, 2016

Mendekatkan Diri kepada Allah Swt dengan Berzikir

Mendekatkan Diri kepada Allah Swt dengan BerzikirMendekatkan Diri kepada Allah Swt dengan Berzikir - Beragam cara ditempuh oleh manusia untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta yaitu Allah Swt. Cara tersebut ada yang melalui jalan merenung atau bertafakkur atau berzikir. Ada pula seseorang menjadi dekat dengan Allah Swt. yang disebabkan oleh musibah yang menimpanya. Demikianlah Allah Swt. membuka cara atau jalan bagi manusia yang ingin dekat dengan-Nya. Sebagai orang yang beriman, tentu saja kita harus mampu menempuh cara apa pun agar dekat dengan Allah Swt.

Kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya tentu saja akan mengantarkannya mendapatkan berbagai fasilitas hidup, yaitu kesenangan dan kenikmatan yang tiada tara. Bukankah seorang anak yang dekat dengan orang tuanya atau seorang pegawai bawahan dengan bosnya akan memberikan peluang atas segala kemudahan yang akan dicapainya.

Jalan lain utuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. adalah melalui zikir. Zikir artinya mengingat Allah Swt. dengan menyebut dan memuji nama-Nya. Syarat yang sangat fundamental yang diperlukan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. melalui zikir adalah kemampuan dalam menguasai nafsu. Selanjutnya menyebut nama Allah Swt. (al-Asma’u al-Husna) berulang-ulang di dalam hati dengan menghadirkan rasa rendah hati (tawadhu) yang disertai rasa takut karena merasakan keagungan- Nya. Zikir dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja. Berzikir pun tidak perlu menghitung berapa jumlah bilangan yang harus dizikirkan, yang penting adalah zikir harus benar-benar menghujam di dalam kalbu.

Selain melalui zikir, mendekatkan diri kepada Allah Swt. dapat pula dilakukan melalui perbuatan atau amaliah sehari-hari, yaitu dengan selalu meniatkan bahwa yang kita lakukan adalah semata-mata hanya karena taat mematuhi aturan main-Nya. Misalnya, kita berbuat baik kepada tetangga bukan karena ia baik kepada kita, tetapi semata-mata karena Allah Swt. menyuruh kita untuk berbuat demikian. Kita bersedekah bukan karena kasihan, tetapi semata-mata karena Allah Swt. memerintahkan kita untuk mengeluarkan sedekah membantu meringankan beban orang yang sedang dalam kesulitan. Hal ini mestinya dapat kita lakukan karena bukankah pada waktu kecil dulu kita mampu patuh melaksanakan perintah dan nasihat orang tua? Mengapa sekarang kita tidak sanggup patuh pada perintah perintah Allah Swt? Jika salat dapat kita kerjakan karena semata-mata taat mematuhi perintah Allah Swt., rasanya mustahil bila kita tidak dapat bersikap demikian pada perbuatan-perbuatan lainnya!


New Post

Mengikuti Bacaan Muazin

Mengikuti Bacaan Muazin - Jika seseorang mendengar azan, hendaknya dia mengikuti bacaan tersebut berdasaran sabda Nabi Saw., "Jika ...

Pages - Menu