Sabtu, 11 Juni 2016

Tiket Masuk Surga

Setiap orang tahu, kehidupan dunia ini hanyalah sementara. Walaupun tidak setiap orang menyadarinya. Akhir hayat yang indah selalu jadi dambaan. Walaupun yang mendambakan kadang tidak mengusahakan. Dan kita semua menginginkan surga.

Surga selalu jadi cerita indah. Penghuninya duduk-duduk di dipan bertahtakan emas. Bertelekan berpandangan dengan kekasih. Mereka dilayani anak-anak muda; membawa gelas, cerek, dan minuman dari sungai-sungainya. Buah-buahannya landai mendekat. Daging-daging jadi hidangan lezat untuk disantap. Kekasih mereka adalah bidadari yang terjaga. Bagaikan intan dan mutiara. Usia bidadari itu sebaya dan penuh cinta. Di dunia manusia lelah dengan pertengkaran dan keributan. Alangkah damainya surga, karena para penghuninya tidak pernah mendengar ucapan yang sia-sia. Tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa.

Semua muslim yang taat, beriman dan bertaqwa Insya Allah akan dimasukkan kedalam golongan-golongan penghuni surga. Menjadi penghuni surga tergantung apa yang kita lakukan di dunia ini. Menjalankan kewajiban perintah Allah SWT sudah pasti harus dilakukan setiap hari (shalat 5 waktu). Dan banyak sekali amalan-amalan yang menambahkan keimanan dan ketakwaan seorang muslim. Berikut salah satu kisah muslim, orang yang mendapat tiket ke ke surga.

Seorang laki-laki datang menemui Rasulullah saw. Ia memohon agar beliau memberikan makanan. Rasulullah saw yag saat itu tidak memiliki makanan menyuruh laki-laki itu menemui Fatimah.

Fatimah saat itu hanya memiliki sebuah kalung emas pemberian bibinya. Ia lalu memberikannya kepada laki-laki itu. Laki-laki itu lalu menemui Rasulullah saw dan memperlihatkan kalung emas itu kepada beliau.

Tak lama kemudian, Abdurrahman bin Auf datang. Ia membeli kalung emas itu. Laki-laki itu pun berterima kasih kepada Rasulullah saw dan pamit pulang.

Beberapa hari kemudian, utusan Abdurrrahman bin Auf bernama Saham datang. Ia membawa pesan dari tuannya untuk memberikan kalung emas dan seorang budak kepada Rasulullah saw. Rasul pun menerima pemberian itu dan memerintahkan Saham agar memberikan kalung emas itu pada Fatimah. Saham lalu menemui Fatimah.

Fatimah berkata pada Saham, "Aku menerima kalung ini dan aku memerdekakanmu."

Budak yang telah dimerdekakan itu berkata kepada Fatimah, "Saya sangat senang menyaksikan sedekah dari tangan ke tangan berikutnya. Kalung emas itu kembali padamu. Semetara itu, sedekahmu telah mengayakan orang miskin dan mendatangkan pahala bagi Abdurrahman bin Auf. Bahkan, kini kau telah membebaskanku. Maka katena kalung ini juga kamu akan masuk surga.

Sedekah yang didasari dengan keikhlasan akan mendatangkan yang tiada terhingga bagi pelakunya.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar